Rabu, 22 Juli 2015

Lithophilia , Gangguan Kejiwaan Penggemar Batu Akik

Batu akik memang nampaknya tengah menjadi primadona saat ini khususnya di Indonesia. Hal ini terbukti dengan meningkatnya permintaan pasar akan komoditas batu mulia ini dan tentunya semakin sering kita jumpai orang-orang di sekitar kita menggunakannya baik sebagai mata cincin, mata liontin atau sekedar disimpan saja.
HISTRIONIC PERSONALITY DISORDER (GANGGUAN KEPRIBADIAN HISTRIONIK) Gangguan kepribadian histrionik sebelumnya dikenal disebut kepribadian histerikal, ditegakkan bagi orang-orang yang selalu dramatis dan mencari perhatian. Mereka sering kali menggunakan ciri-ciri penampilan fisik yang dapat menarik perhatian orang kepada dirinya, misalnya pakaian yang mencolok, tata rias, atau warna rambut. Mereka berpusat pada diri sendiri, terlalu mempedulikan daya tarik fisik mereka, dan merasa tidak nyaman bila tidak menjadi pusat perhatian. Mereka dapat sangat provokatif dan tidak senonoh secara seksual tanpa mempedulikan kepantasan serta mudah dipengaruhi orang lain. Diagnosis ini memiliki prevelensi sekitar 2 persen dan lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Gangguan kepribadian histrionik lebih banyak terjadi pada mereka yang mengalami perpisahan atau perceraian, dan hal ini diasosiasikan dengan depresi dan kesehatan fisik yang buruk. Gangguan ini sering muncul bersamaan dengan gangguan kepribadian borderline. Etiologi gangguan kepribadian histrionik Gangguan ini dijelaskan berdasarkan pendekatan psikoanalisa. Perilaku emosional dan ketidaksenonohan secara seksual didorong oleh ketidaksenonohan orang tua, terutama ayah terhadap anak perempuannya. Kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian dipandang sebagai cara untuk mempertahankan diri dari perasaan yang sebenarnya yaitu self-esteem yang rendah. Perspektif Psikososial Mengenai Histrionic Personality Disorder a) Psikodinamik Para ahli psikodinamika melihat gangguan ini sebagai hasil dari kebutuhan-kebutuhan akan ketergantungan yang sangat mendalam dan merupakan represi-represi dri emosi, hambatan dari resolusi setiap tahap oral atau oedipal. Pencarian atensi berasal dari kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan dari orang lain. Kedangkalan berpikir dan kedangkalan keterlibatan emosi dengan orang lain mnggambarkan orang-orang histerionik yang merepresi kebutuhn-kebutuhab dan perasann-perasannnya sendiri. b) Behavioral Orang denga tipe histerionik biasanya berasal dari kelurga yang memanjakan dan membiarkan sifat manjanya hingga dewasa (being daddy’s "pretty little girl"). Hal ini manjadi suatu pembiasaan sehingga terbentuk karakter yang menetap mengenai sifat manja dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Selain itu, biasanya, dalam keluarga tabu untuk mendidik atau mengenalkan. masalah sex. Selain itu, ada pndapat lain yaitu ketika masa kanak mengalami hubungan dengan orang tua yang tidak harmonis sehingga kehilangan rasa cinta. Lalu untuk mempertahankan ketakutan akan kehilangan yang sangat, dia bereaksi secara dramatis. c) Cognitive Para ahli kognitif berpendapat bahwa asumsi dasar yang mengarahkan orang-orang bertingkah laku histerionik adalah “aku tidak cukup dan tidak mampu menangani hidup dengan caraku sendiri”. Meskipun asumsi ini dipakai untuk orang-orang dengan gangguan lain, secara kgusus yang mengalami depresi dan orang-orang histerionik merespon asumsi ini secara lebih berbeda dibandingkan dengan gangguan lain. Secara khusus, orang histerionik bekerja untuk mendapat perhatian dan dukungan dari orang lain. d) Humanistic Orang dengan tipe ini memiliki self-esteem yang rendah, dan sedang berjuang untuk member kesan pada orang lain dengan tujuan meningkatkan self-worth mereka. e) Interpersonal Orang dengan tipe histerionik dapat berbuat apa saja agar mendapat perhatian dari sekelilingnya. Walaupun begitu, ia tidak dapat menjalin relasi mendalam dengan lingkungannya. Kadang mereka memperlihatkan perlaku merayu secara sexual (dengan lawan jenis, bahkan pada ayah sendiri), berkompetisi dan terlalu menuntut pada relasi dengan jenis kelamin yang sama.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Batu akik, sebetulnya sudah dikomersilkan ribuan tahun yang lalu dan kini  menjadi barang favorit yang paling banyak dicari . Mereka tidak hanya menjadi batu kesayangan namun juga bisa menjadi seperti sahabat bahkan teman hidup. Batu terkenal dengan sifat khususnya, pemiliknya akan  begitu perhatian dan akan merawat batu kesayangannya dengan baik, bahkan ada yang memberi makan dan minum, sungguh pemikiran yang diluar logika. Tapi tahukah Anda jika perhatian yang berlebihan pada batu adalah suatu gangguan psikologis?
Lithophilia, adalah sebuah istilah yang dipakai untuk menyebut seseorang yang mecintai batu akik secara berlebihan atau tidak terkontrol. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, lithos berarti batu dan philia yang berarti 'menyukai' atau 'penuh kasih sayang'. Gejala dari kelainan ini sangat bervariasi dan kondisinya bisa berbeda-beda. Beberapa orang menjadi sangat khawatir terhadap batunya. Bahkan ada kejadian dimana seseorang merasa bahwa batunya itu berbicara dan mereka bisa berkomunikasi. Kemungkinan sembuh dari gangguan ini adalah 50:50, selama gejalanya tidak berlanjut menjadi sesuatu yang lebih buruk. Ada baiknya untuk menemui psikiater untuk mengetahui tingkat keparahan dari Lithophilia ini.
Beberapa kasus, orang begitu menyayangi batu tak cukup dengan satu buah namun hingga puluhan buah. Pada kasus ini penderitanya disebut dengan Litho collector atau hoaders. Penamaan ini didasarkan pada aktifitas yang mereka lakukan yakni mengoleksi batu-batu. Bahkan batu tersebut telah  disimpan dengan cara dimasukkan ke dalam peti antik berharga mahal.  di Indonesia Kasus ini  cukup tinggi hingga mencapai 2000 kasus pertahunnya. Awalnya niat dari para kolektor ini cukup bagus. Mereka begitu menggemari batu, setiap kali menemukan batu bagus terlantar di jalan mereka ambil dan di bawa pulang.Mereka mencari di gunung-gunung atau sungai , namun lama kelamaan mereka mencari batu di sembarang tempat , misalnya trotoar , marmer bekas lantai masjid, bahkan ada kabar batu nisan dipakai mata cincin
Kebanyakan penderita gangguan semacam ini lebih sayang pada batunya ketimbang manusia lainnya. Dan mereka ini akan bertanggung jawab untuk memelihara, memberikan perhatian, serta tidak berlaku kasar pada batunya.Penyebab dari gangguan ini belum dapat dipastikan namun diduga dikarenakan orang tersebut tidak mampu memperoleh hubungan yang baik terhadap manusia lainnya. Ada juga yang menyebutkan Lithophilia ini disebabkan oleh hubungan yang terlalu dekat dengan batu peliharaan atau adanya titik kejenuhan dalam melakukan hubungan sosial dengan sesama manusia. Terapi untuk gangguan ini masih memiliki banyak kendala dan keterbatasan. Hal ini disebabkan oleh terapi yang kerap kali dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena adanya perasaan malu dan bersalah dari penderita. Ada beberapa terapi yang diterapkan antara lain psikoanalisis, hipnosis, behacioral, kognitif, dan obat-obatan.
Sebagai pesan bagi pecinta batu akik, sayangi dan cintailah batu tersebut sewajarnya. Janganlah berlebihan, bahkan Tuhan pun membenci perilaku manusia yang berlebihan.

Referensi
Agrawal. A. 2011. A New Clasification of Zoophilia. Journal of Forensic and Legal Medicine. Www.elsevier.com
Aronson, S.M. 2010. Physician's Lexicon: Those Esoteric, Exoteric and Fantabulous Diagnoses. Volume 93 no.5
BookLov3r. 2011. Love and Hate

HISTRIONIC PERSONALITY DISORDER (GANGGUAN KEPRIBADIAN HISTRIONIK) Gangguan kepribadian histrionik sebelumnya dikenal disebut kepribadian histerikal, ditegakkan bagi orang-orang yang selalu dramatis dan mencari perhatian. Mereka sering kali menggunakan ciri-ciri penampilan fisik yang dapat menarik perhatian orang kepada dirinya, misalnya pakaian yang mencolok, tata rias, atau warna rambut. Mereka berpusat pada diri sendiri, terlalu mempedulikan daya tarik fisik mereka, dan merasa tidak nyaman bila tidak menjadi pusat perhatian. Mereka dapat sangat provokatif dan tidak senonoh secara seksual tanpa mempedulikan kepantasan serta mudah dipengaruhi orang lain. Diagnosis ini memiliki prevelensi sekitar 2 persen dan lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Gangguan kepribadian histrionik lebih banyak terjadi pada mereka yang mengalami perpisahan atau perceraian, dan hal ini diasosiasikan dengan depresi dan kesehatan fisik yang buruk. Gangguan ini sering muncul bersamaan dengan gangguan kepribadian borderline. Etiologi gangguan kepribadian histrionik Gangguan ini dijelaskan berdasarkan pendekatan psikoanalisa. Perilaku emosional dan ketidaksenonohan secara seksual didorong oleh ketidaksenonohan orang tua, terutama ayah terhadap anak perempuannya. Kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian dipandang sebagai cara untuk mempertahankan diri dari perasaan yang sebenarnya yaitu self-esteem yang rendah. Perspektif Psikososial Mengenai Histrionic Personality Disorder a) Psikodinamik Para ahli psikodinamika melihat gangguan ini sebagai hasil dari kebutuhan-kebutuhan akan ketergantungan yang sangat mendalam dan merupakan represi-represi dri emosi, hambatan dari resolusi setiap tahap oral atau oedipal. Pencarian atensi berasal dari kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan dari orang lain. Kedangkalan berpikir dan kedangkalan keterlibatan emosi dengan orang lain mnggambarkan orang-orang histerionik yang merepresi kebutuhn-kebutuhab dan perasann-perasannnya sendiri. b) Behavioral Orang denga tipe histerionik biasanya berasal dari kelurga yang memanjakan dan membiarkan sifat manjanya hingga dewasa (being daddy’s "pretty little girl"). Hal ini manjadi suatu pembiasaan sehingga terbentuk karakter yang menetap mengenai sifat manja dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Selain itu, biasanya, dalam keluarga tabu untuk mendidik atau mengenalkan. masalah sex. Selain itu, ada pndapat lain yaitu ketika masa kanak mengalami hubungan dengan orang tua yang tidak harmonis sehingga kehilangan rasa cinta. Lalu untuk mempertahankan ketakutan akan kehilangan yang sangat, dia bereaksi secara dramatis. c) Cognitive Para ahli kognitif berpendapat bahwa asumsi dasar yang mengarahkan orang-orang bertingkah laku histerionik adalah “aku tidak cukup dan tidak mampu menangani hidup dengan caraku sendiri”. Meskipun asumsi ini dipakai untuk orang-orang dengan gangguan lain, secara kgusus yang mengalami depresi dan orang-orang histerionik merespon asumsi ini secara lebih berbeda dibandingkan dengan gangguan lain. Secara khusus, orang histerionik bekerja untuk mendapat perhatian dan dukungan dari orang lain. d) Humanistic Orang dengan tipe ini memiliki self-esteem yang rendah, dan sedang berjuang untuk member kesan pada orang lain dengan tujuan meningkatkan self-worth mereka. e) Interpersonal Orang dengan tipe histerionik dapat berbuat apa saja agar mendapat perhatian dari sekelilingnya. Walaupun begitu, ia tidak dapat menjalin relasi mendalam dengan lingkungannya. Kadang mereka memperlihatkan perlaku merayu secara sexual (dengan lawan jenis, bahkan pada ayah sendiri), berkompetisi dan terlalu menuntut pada relasi dengan jenis kelamin yang sama.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ

Minggu, 17 Mei 2015

SEJARAH LASEM DAN SEKITARNYA

Dening Mbah Guru 
Kawetokake dening Dewan Pengandhar Sabda Badra Santi 
ing Padhepokan Argasoka 
 —————————————————————————— 

Sagunging kahormatan 
Nuwun 

Purwaka 

Buku sejarah punika nyatheti wiwit ing taun Masehi 1931, saking kepek cathetan tuwin pangandikanipun Eyang Buyut canggah guru desa, tuwin Eyang Pandhita Kanung ing Pareden Kendheng Ngargapura, Pomahan, Sukalila lan Prawata. 

Piweling tuwin pamantos-wantosipun para swargi Eyang Panembahan Kanung punika: “Nggeeerr anak putuku.. Tak weling poma-poma aja nganti dilirwakake!!! Sejarahe canggah wareng leluhur Kanung iki aja nganti keprungu lan diweruhi dening wong sabrang ngatas angin Maghribi. Yen nganti keprojol, awake dhewe mesthi bakal cilaka lan bilahi; klakon dibuwang neng Sawahlunta. Emrehe disirik wong Mutihan wong Kutha.. Mbesok yen wong Kebo Bule wis mulih ning kandhange, crita sejarahe leluhur Kanung iki bakal dilari digoleki dening priyagung Jawa kang mamestri ngleluri kabudayan Jawa. Lhah ing kono anak putuku tedhake wong Kanung aja tidha-tidha supaya mangastuti medhar mbabar sejarahe luhure dhewe iki: Sura Dira Jaya-ning Rat bakal lebur dening Pangastuti!!!” 

Mila ingkang mekaten punika sejarahipun leluhur Kanung punika selaminipun jaman penjajahan Landi tuwin Nippong sami sireb kependhem ing pranataning Panguwasa. Nembe jaman Kemerdekaan R.I. punika riwayatipun tiyang Kanung punika wiwit trubus muncul malih. Sanajana taksih wonten Priyantun ingkang ngencepi tuwin mitenah, ngendikanipun: “Tatacara Kuna-Endra wis kependhem wis ilang sirna, kok arep dithukulake maneh. Kolod Mbaahh, kolod. Wis ora njamani!!!” 

Tumrap kita para sutresna sejarah leluhur Kanung tuwin ngrawat lan memundhi punden leluhur Kanung punika perlu nguri-uri memetri Seni-Budaya Jawi piwulangipun swargi leluhur canggah wareng; wonten bukti kubur patilasanipun nyangkleg wonten ing bumi papan panggenan kita, ing negari kita. 

Wusana sampun kirang ing pamengku, Nuwun!!! 

Katiti ing Padhepokan Argosoka, 28 Juni 1996. 
Pambabar buku sejarah

 ttd 

Kacorek kaleresaken 

 —————————————————————————————————— 

Sejarah Kawitane : 
Ana Wong JAWA lan Wong KANUNG 
dening : Mbah Guru Peta Jawa Dwipa 




I. Jaman JAMAJUJA (Puluhan ewu tahun kepungkur) 

Dhek jaman semana Pegunungan Kendheng kuwi wujude ana pegunungan 2 (loro): 
1. Pegunungan Kendheng Kidul, karan Pegunungan Kendheng tuwa. 
2. Pegunungan Kendheng Lor, karan Nusa Kendheng. 

1. Pegunungan Kendheng Kidu

Kuwi dununge wiwit saka wetan Pegunungan Kabuh, Kabupaten Jombang, mbanjeng mujur mengulon tutug Pegunungan Masaran, Kabupaten Sragen. 

Sabab saka anane lindhu prakempa Gunung Lawu jaman sangang ewu tahun kepungkur, ndadekake Pegunungan Watujago bengkah omblah-omblah mujur mengulon; wasana dadi Lembah Ngawi kanggo dalan iline Bengawan Sala nrabas menggok ngalor tutug Cepu. 

Sakdurunge ana lindhu gedhe, Pegunungan Watujago tutug Pegunungan Masaran kuwi dienggoni menusa sing isih wuda mblejed, wujude kaya kethek-rangutan gedhe pangane rupa kewan: kodok, kadal, ula, cacing, jangkrik, walang, sarta woh-wohan: mulwa, srikaya, mete, dhuwet, popohan, nanas lan liya-liyane. 

Kabeh mau mung cukup ngapek utawa nyekel ning alas panggonane urip neng kono. Panggonane turu ning gowok sing dhuwur utawa pang-pang gedhe, durung ana sing wani turu ning guwa; sabab guwa-guwa kuwi mesthi dienggoni macan gembong. Wong mau yen mati bangkene diumbar ngenggon kono nuli ditinggal lunga, wekasane diothel-othel dipangan kewan galak; balunge pating kececer ning kana-kana katut banjire Bengawan Sala padha nyangrah ning mbereman Gemolong, Kalijambe, Kabupaten Sragen, wasana kurugan lumpur lan padhas linede Bengawan Sala, uga ana sing tutug mbereman Ngandong, Kabupaten Ngawi. 

Wong pulo liya sing wis padha duwe tata-budaya, olehi ngarani wong ngono mau aran Wong Legena. Uga ana sing ngarani Gandaruwo. Ana maneh sing ngarani Kethek Limuri. 

 2. Pegunungan Kendheng Lor 

Pegunungan Kendheng Lor (Nusa Kendheng) watara limang ewu taun kepungkur wis dienggoni wong sing luwih maju tinimbang wong Legena, wong-wong mau wis bisa gegaweyan gaman-watu diasah landhep. Nusa Kendheng kuwi nalika semana isih wujud Pulo gedhe cawang telu kang kinilung Teluk Lodhan lan Segara; 

ing sisih wetan ngongkang Telok Lodhan lan Segara Kening. Sisih kidul keledan Segara Selat Kendheng-Kidul lan Segara Teluk Lusi. Sisih kulon Segara Teluk Serang kang tepuk karo Segara Selat Murya. Sisih lor Teluk Juwana lan Samodra Jawa kang jembar lerab-lerab. Gunung Murya isih wujud gunung geni dhuwur-ngukusan, dikilung segara. 

Nusa Kendheng kuwi ora duwe tanah ngare lembah banthak tadhah udan kang ngembong banyu; wujude mung pegunungan alelengkeh jurang lan gompeng; ing sawetara gompeng ana guwa-guwane padhas sing jembare mung sarompok teba. Neng bumi Nusa Kendheng kono kuwi ora ana thethukulan pari lan jumawud, sing ana mung jalinthing, canthel, lan jagung-kodhok kang thukul subur neng lelowah sing ngembes; wohe dadi pangane kethek, bethet lan bantheng. Ning alas kono lebeng wite: jati, trenggulun, sawo-kecik, mete, klethuk, lan mulwa. 

Gisike-pesisir nggenggeng wit: krambil, bogor (tal), jambe. Pesisire sing wujud rawa-embet klethukulan: rembulung, bongaow, sarta brayo kang nrecel riyel. Ning punthuk pegenengan sing dhuwur-dhuwur ketel suket-kalanjana lan alang-alang sing dienggoni grombolane bantheng. Bantheng wadon aran Jawi. Sing gemati banget (jawa banget) ning pedhet-pedhete. Ing wayah bengi jawi-jawi mau yen padha turu padha kupeng adu bokong karo jawi-Jawi liyane ngilung pedhet-pedhete. Dene bantheng-lanang sing mbenguk padha kekiter njaga grombolane, aja nganti dimunasika kewan-galak. 

Nalika semana Pegunungan Kendheng Lor kuwi wis didunungi menusa wong asli pribumi kono. Dedege endhek pawakane cilik, kulite nembaga. Kauripane isih wlaha lugu deles, nanging wis nduwe kemajuwan. Tatabudaya gegaweyan; sandhangane rupa cawed saka lulup waru diperut-alus dienam, utawa lulang kewan diucel nganti lemes. Uripe sagotrah manggon ning guwa-guwa padhas mau, kekancan karo asu-gladag sakirike sing wis padha kawong lulud melu manggon cedhak guwa kono. Bocah-bocah cilik karo kirik kerep padha gojeg kekuwelan nanging nyakote ora tenanan, mung padha ngos-ngosan pating krenggos. Panguripane wong-wong mau saka kekrapa, nyelog, memed, lan mbebedag-ajag. Gamane rupa payal, panah, bedhor, sing digawe saka watu-jae kempling diasah mlingir landhep banget. Yen luru pangan asu-asu kuwi mesthi melu kekinthil utawa jejigar sesanderan ngoyak kewan nuronan, uga sok melu nyelog ndukiri palapendhem-alasan. Oleh-olehane pangan digawa mulih dirantengi mung dikoprok thok, yen wis mateng nuli dioser-oseri awu rencek-sangkrah segara dadine mbanjur krasa asin; nuli dipangan kepyah-kepyah sabrayate uga asu-asu sakirike padha melu mangan bebarengan. Genine entuke saka wit kang kobong disamber bledheg, pang-pang garing ana genine mengangah merga gesekan karo pang-pang liyane ing mangsa ketiga-ngangkang. Geni kuwi digawe totor marong rina-wengi ning sacedhake guwa kono; yen bengi ngiras digawe memedeni kewan galak supaya ora wani nyedhaki guwa kono; kawuwuhan kewan-kewan galak kuwi padha giris dijegogi asu-gladhak sepirang-pirang swarane mawurahan rame. Yen pinuju padhang rembulan wong-wong mau padha seneng-seneng ning sak njabane guwa, pada jejogedan lan gegandhangan sarta keplok-keplok lan anyul-anyul cangkeme mecucu kaya cupu, tunggak-tunggak utawa kayu sing ngglonthong dithuthuki digawe tetabuhan. Wong asli dhek jaman JAMAJUJA sing uripe isih sarwa deles prasaja wlaha ngono mau diarani Wong Suku Lingga. 
 SIGEG 

II. Jaman KUNA-MAKUNA (Sadurunge Tahun Masehi, Nabi Isa el masih durung miyos) 
Wong Nusa Bruney-kidul sing manggon ning saurute pesisire Teluk Sampit sarta neng tepis kiwa tengene Bengawan Sampit-hilir, ing sawijining wektu ketrajang pageblug-gedhe. Jare wong-wong Sampit kuwi padha digrowoti Setan Blarutan-sogrok weteng; nganti akeh banget wong-wong sing padha mati, luwih-luwih bocah cilik sing isih demolan. Wong-wong sing isih urip padha miris banget, nuli padha ngungsi minggat ngumbara lelayaran mengidul nyabrang samodra Bruney; tumuju ning Nusa Kendheng. Setan Blarutan ora wani nyabrang samodra nututi wong-wong ngungsi mau, jare wedi kesiku Bathari Hwa Ruh Na, ratune Jim-Samodra. Mangkate wong-wong ning Nusa Kendheng dipangarsani dening Kie Seng Dhang, sawijining wong tuwa Sampit sing wegig lan akeh pengalamane, wong sing jangklanglana ning manca negara. Sawise lelayar sepuluh dina sepuluh wengi, ing wayah pajar bang-bang-wetan katon regemenge Gunung Nusa Kendheng (saiki Gunung Ngargapura Lasem); gisik sawetane Ngargapura katon sesawangan (pemandhangan, saiki dadi desa Pandhangan) kang ngresepake pandulu. Puncake Gunung Ngargapura katon ampak-ampak memplak, langit resik ngalela warnane biru-lasuardi; ombak agilir-gilir lindhuk nyempyok gisik pesisir sawetane Ngargapura. Yaaa neng bumi kono kuwi wiwite wong-wong Sampit padha ndarat cakalbakal dadi bangsa-anyar, aran Wong Jawa. Let sapenginang (wong-wong wadon Sampit padha seneng nginang nglenthusi woh jambe sing isih enom, arane Mucang), prau-prau mau wis padha mepet gisik (palwa-palwa = palwangan. Plawangan, saiki dadi desa Plawangan), para Pandhega mbuwang dandhan padha ndokok (menaruk-naruk, saiki dadi desa Narukan) praune jejer-jejer urut gisik mbanjeng mengidul. Nenek-nenek padha ndisiki mudhun saka prau kanthi mbuwang susure tepes-jambe ning segara, minangka sarat mbuwang sebel saka negarane. Nyi Seng Dhang nguculi udhete ngrogoh cepuk isi lemah-lebu saka bumi Sampit, disawurake ning gisike bumi Ngarga Kendheng; nuli sembahyang sujud sumungkem Pretiwi lan tumenga Angkasa. Wong-wong wadon liyane padha melu sembahyang bebarengan, ing pamuji: “Muga-muga sagotrah krandahe sing padha neneka kuwi padha entuka Kabekjan lan Karahayon pindhah tetruka ning bumi kono, tulusa trah-tumerah turun-tumurun bebranahan nganti pirang-pirang jaman dadi bangsa-anyar neng Nusa Kendheng.” Wong-wong lanang nuli padha nusul munggah dharatan luru papan panggonan sing nyangkleg ning Tuk, kanthi enthuk pituduh lan pangeguh saka kakek Kie Seng Dhang sing lakune wis sempoyongan astane digandheng putune Putri-kinasih umur 12 tahun; praupane ayu pindha golek-kencana, asmane Nie Rah Kie. Kakek Kie Seng Dhang mlaku nusup-nusup ning alas bebondhotan, sawise oleh papan kang cocog lan gathuk nuli prentah ning kabeh krandahe diutus mbubak grumbul nebang kekayon digawe teba. Putri Nie Rah Kie weruh kembang warnane putih-memplak anjrah nedhenge medem uga ana sing isih kundhup gandane amrik-wangi, wite pating grembel ngoyod ning gompeng. Sang putri kesengsem banget nuli matur ning Eyange. “Besuk yen wis duwe omah lan karasan arep nandur kembang sing warnane putih ngresepake banget ngono kuwi.” Kembang mau dijenengke kembang Melathi dening Sang Putri. Watara patang sasi alas kuwi wis dadi papan-pomahan lan pekarangan; nalika kuwi tepak mangsa Labuh wayahe boros padha trubus, uler jati padha dadi ungker, woh-wohan padha medhohi, palapendhem akeh sing isih bentet; ndadekake wong-wong seneng ayem ngrasa ora kekurangan pangan. Minangka kanggo mengeti asal-usule Kie Seng Dhang kuwi saka desa Tanjung-matalayur sawetane Teluk Sampit bumi Nusa Bruney pesisir kidul, mula punjere desa cakal bakal sing didunungi Kie Seng Dhang sagotrah-krandahe mbanjur dijengke desa Tanjungputri (saiki dadi desa Tanjungsari, Kecamatan Pandhangan/ Kragan Kabupaten Rembang). Sawise dadi karas-pekarangan lan pomahan, ing sawijining dina wong-wong mau padha ngumpul ning Balepaguyuban Tanjungputri, perlu ngrembug Tatapranata lan Tataraharjane desa disesepuhi kakek Kie Seng Dhang. Giliging gawe putusan: Ngangkat Kie Seng Dhang diwisudha dadi Sesepuh lan Dhatu Tanjungputri ing salawase Urip, mrenata bumi Pegunungan lan Pesisire Ngargapura, wiwit Pandhangan tutug teluk Lodhan sing gisike wujud Wedhi-malela. Teluk kuwi nggenggeng alase wit Pung kang ketel sirung, ing sisih wetan ana bregade wit Pung-gedhe banget cacahe ana telu (=Sam, saiki dadi desa Sampung). Bumi Nusa-Kendheng diganti aran: Tanah Jawi, nulad arane Bantheng-wadon (jenenge: Jawi) sing dikramatake dening wong Lingga. Awake dhewe kuwi wis ora aran wong Sampit maneh, ngganti aran; wong Jawa, Nulad watake bantheng-wadhon kang jawa-banget (=gemati, ngerti, wigati) mring pedhet-pedhete. (Bumine aran: Tanah Jawi, menusane aran: Wong Jawa). Wong-wong kuwi nuli menehi tetenger Tahun, wiwite dadi Wong Jawa, diarani (Tahun Jawa Hwuning: 1 = 230 tahun sakdurunge tahun Masehi); sarta digawekake Lambang-Reca watu-item gedhene sak-menusa, pethane Kie Seng Dhang ndodhok ning Pongol sawetane Gunung Tunggul. Para tetuwa diwajibake nganggo kalung rambute dewe ditampar, lan diwenehi mendhel/ gandhul singg digawe saka Watu-jae wilis gedhene sajenthik-manis; memper recane Kie Seng Dhang. Wong-wong mau padha Prasetya-Suci Wong Jawa turun-temurun tutug Jaman apa wae tetep padha ngrungkepi Tatapercayaan-Suci Hwuning, naluri saka leluhur Nusa Bruney bangsa Chaow (=inggatan=ngumbara) saka Nusa-Hainan; jaman Jamajuja 3000 taun kepungkur (1000 taun sakdurunge Nabi Isa el Masih miyos). Guru-guru Agung bawana Masriki uga durung miyos neng Alam-ndonya, yakuwi: 1. Laow Tze Tao, 2. Hud Tze Buddha, 3. Kong Tze Khonghucu. Wondene asal-usule bangsa Chaow sing kawitan kuwi wong saka negara China, tepise bengawan Yang Tze Kiang udhik diapit Pegunungan Kwen Lun lan Pegunungan

Mbuh Bener mbuh hura...... lumayan buat Referensi Cerita Kethoprak .
Sumber : SERAT SABDA BADRASANTI ( ngampil P. Agus Priyo Utomo , Sendangmulyo , Kragan )

Share

Twitter Facebook Stumbleupon Favorites More